FESTIVAL PEKA 2026 : JEMBER MENYALA • SERIBU CAHAYA
Festival & Cultural Events

FESTIVAL PEKA 2026 : JEMBER MENYALA • SERIBU CAHAYA

June 26, 2026 5 min read
CMS Profile
Published on June 26, 2026
Last updated: Jun 26, 2026
FESTIVAL PEKA 2026 : JEMBER MENYALA • SERIBU CAHAYA

FESTIVAL PEKA 2026 : JEMBER MENYALA • SERIBU CAHAYA

Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026 merupakan model pemajuan kebudayaan berbasis ekologi yang mentransformasikan pengetahuan, kolaborasi, dan penciptaan karya menjadi pengalaman budaya imersif di ruang publik.

Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026: Model Pemajuan Kebudayaan Berbasis Ekologi, Kolaborasi, dan Penciptaan Karya

 

Kebudayaan tidak tumbuh dari sebuah peristiwa yang berlangsung dalam satu malam. Kebudayaan dibangun melalui proses panjang yang mencakup pengembangan pengetahuan, dialog publik, riset artistik, pembinaan sumber daya manusia, penciptaan karya, hingga penyajiannya kepada masyarakat sebagai ruang apresiasi, edukasi, dan transformasi sosial.

 

Berangkat dari paradigma tersebut, Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026 hadir sebagai sebuah model pemajuan kebudayaan yang mengintegrasikan seni, ekologi, dan partisipasi masyarakat dalam satu ekosistem kreatif yang berkelanjutan. Mengusung Panggung "Jember Menyala • Seribu Cahaya", festival ini merupakan puncak dari rangkaian proses kreatif yang difasilitasi melalui Program Dana Abadi Kebudayaan – LPDP, dengan pendekatan yang menempatkan kebudayaan sebagai proses pembangunan pengetahuan sekaligus penguatan identitas masyarakat.

 

Lebih dari sekadar festival, program ini memperlihatkan bagaimana sebuah gagasan budaya dikembangkan menjadi gerakan kolektif yang melibatkan seniman, akademisi, komunitas, relawan, generasi muda, serta masyarakat dalam menghasilkan karya-karya baru yang berakar pada kekayaan budaya dan bentang alam Kabupaten Jember.

 

Membangun Fondasi Pengetahuan Ekologi Budaya

 

Rangkaian program dimulai pada 28 Februari 2026 melalui Forum Diskusi Publik dan Sarasehan Ekologi Budaya. Forum ini menjadi ruang bertemunya berbagai perspektif dari seniman, budayawan, akademisi, pemerhati lingkungan, komunitas, dan masyarakat untuk mendiskusikan keterkaitan antara kebudayaan, ekologi, dan masa depan pembangunan yang berkelanjutan.

 

Dari forum tersebut lahir sebuah kerangka kuratorial yang menempatkan kunang-kunang sebagai metafora kebudayaan. Kehadirannya dipahami bukan semata sebagai fenomena biologis, melainkan sebagai simbol keseimbangan ekologi, cahaya kehidupan, harmoni, serta penanda kualitas lingkungan yang masih terjaga. Gagasan inilah yang kemudian menjadi landasan konseptual seluruh proses penciptaan karya dalam Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026.

 

Dari Residensi Lokakarya Kreatif Menuju Produksi Karya

 

Sepanjang April hingga Mei 2026, gagasan kuratorial tersebut diterjemahkan melalui serangkaian lokakarya, laboratorium kreatif, proses eksplorasi artistik, latihan intensif, dan pendampingan lintas disiplin. Pada fase ini, ruang belajar berkembang menjadi ruang produksi, tempat pengetahuan diolah menjadi karya yang lahir melalui dialog antara tradisi, inovasi, dan pengalaman hidup masyarakat.

 

Program ini melibatkan 41 seniman profesional dari bidang tari, teater, musik, seni rupa, digital art, multimedia, dan tata artistik. Mereka bekerja secara kolaboratif bersama 70 anak dan remaja peserta lokakarya yang memperoleh pembinaan langsung sebagai bagian dari proses regenerasi pelaku budaya.

 

Kolaborasi tersebut menghasilkan berbagai luaran program yang terukur, di antaranya 20 karya lukis terbaik hasil lokakarya, puluhan instalasi Lampion Kunang-Kunang, 15 kostum Penari Kunang-Kunang, komposisi musik orisinal, karya koreografi baru, 20 Penari Tradisional Dan Kontemporer ( Binaan Peserta Lokakarya ) serta pertunjukan lintas disiplin yang dikembangkan secara khusus untuk ruang pertunjukan berbasis alam.

 

Seluruh capaian tersebut menunjukkan bahwa indikator keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan yang terlaksana, tetapi dari kualitas proses penciptaan, peningkatan kapasitas pelaku budaya, dan lahirnya karya-karya baru yang memiliki nilai artistik sekaligus nilai edukatif.

 

Nara Nocturnal: Performance Art Berbasis Lanskap Alam

 

Puncak artistik festival diwujudkan melalui Nara Nocturnal, sebuah karya performance art yang dirancang secara khusus untuk dipentaskan pada malam hari di kawasan Taman Kunang-Kunang, Taman Nara Bestari.

 

Pertunjukan ini menghadirkan pendekatan site-specific performance, yaitu karya yang lahir dari karakter ruang tempat ia dipentaskan. Lanskap alam tidak diperlakukan sebagai latar belakang, melainkan sebagai bagian dari komposisi artistik yang menyatu dengan tata cahaya, vegetasi, ruang terbuka, suara alam, dan pengalaman penonton.

 

Komposisi musik Kunang-Kunang Kebudayaan dikembangkan dari kekayaan musikal tradisi Jember yang kemudian diinterpretasikan melalui pendekatan kontemporer dan nuansa klasik. Unsur musik tradisi, vokal, instrumen kentongan, akustik, tata suara ambient, dan teknologi audio digital art dipadukan menjadi lanskap bunyi yang membangun suasana puitik sekaligus reflektif.

 

Komposisi tersebut kemudian diterjemahkan melalui karya koreografi Tari Kunang-Kunang, yang mengeksplorasi gerak tubuh sebagai representasi cahaya, kehidupan, migrasi, komunikasi, dan keseimbangan ekologi. Koreografi ini memadukan idiom tari tradisional dengan pendekatan koreografi kontemporer sehingga menghadirkan bahasa gerak yang baru tanpa kehilangan akar budaya lokal.

 

Didukung instalasi Lampion Kunang-Kunang, multimedia, tata cahaya artistik, serta ruang alami Taman Nara Bestari, Nara Nocturnal menghadirkan pengalaman multisensori yang membawa penonton memasuki ruang perenungan tentang hubungan manusia, kebudayaan, dan alam.

 

Ruang Publik sebagai Ruang Ekspresi Kebudayaan

 

Seluruh hasil proses kreatif tersebut akan dipresentasikan kepada masyarakat melalui Pagelaran Seni Budaya Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026 yang diselenggarakan pada Sabtu, 11 Juli 2026, di Taman Nara Bestari, Kabupaten Jember.

 

Festival menghadirkan pertunjukan lintas disiplin, pameran karya seni rupa, instalasi artistik, pertunjukan musik, teater, tari, digital art, serta pengalaman budaya berbasis lanskap yang mempertemukan seniman, komunitas, relawan, pelajar, dan masyarakat dalam satu ruang ekspresi bersama.

 

Sebagai bagian dari perluasan dampak program, rangkaian kegiatan juga akan dilanjutkan melalui Pawai Kampanye Ekologi Budaya dalam momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2026. Kegiatan ini menjadi media edukasi publik yang mengajak masyarakat menjadikan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari praktik kebudayaan sehari-hari.

 

Indikator Kinerja Berbasis Dampak

 

Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026 menunjukkan bahwa keberhasilan program pemajuan kebudayaan diukur melalui kualitas proses dan dampak yang dihasilkan. Program ini berhasil membangun ruang dialog publik mengenai ekologi budaya, memperkuat kapasitas seniman dan generasi muda melalui pembinaan berkelanjutan, menghasilkan karya seni baru lintas disiplin, memperluas jejaring kolaborasi antara komunitas, sanggar seni, relawan, akademisi, dan masyarakat, mengaktifkan ruang publik sebagai ruang ekspresi budaya, serta memperkenalkan model pertunjukan berbasis lanskap yang mengintegrasikan seni, ekologi, dan pendidikan budaya.

 

Lebih jauh, program ini meninggalkan warisan berupa pengetahuan, metode pembinaan, karya artistik, jejaring kolaborasi, serta praktik baik pengelolaan festival yang dapat menjadi referensi dalam pengembangan kebudayaan berbasis masyarakat di masa mendatang.

 

Menyalakan Cahaya Kebudayaan Indonesia

 

Jember Menyala • Seribu Cahaya merupakan ajakan untuk melihat kebudayaan sebagai kekuatan yang mampu membangun kesadaran ekologis, memperkuat identitas lokal, dan menghadirkan ruang kolaborasi bagi berbagai generasi.

 

Melalui Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026, Kabupaten Jember menegaskan bahwa seni tidak berhenti sebagai medium pertunjukan, melainkan menjadi instrumen pendidikan, pelestarian lingkungan, inovasi artistik, dan pembangunan kebudayaan yang berkelanjutan.

 

Ketika cahaya menjadi bahasa, seni menjadi gerakan, dan alam menjadi panggung, lahirlah sebuah pengalaman budaya yang tidak hanya dikenang sebagai sebuah festival, tetapi sebagai tonggak lahirnya ekosistem kebudayaan baru yang bertumbuh dari pengetahuan, kolaborasi, dan kecintaan terhadap alam.

 

JEMBER MENYALA • SERIBU C

AHAYA

Menyalakan Seni. Menghidupkan Budaya. Merawat Alam.

 

Tags

#events

Related Articles

Chat with us on WhatsApp